Bal Budhi Menolak Punah, 128 Klub Bertanding, Kalianget Resmi menjadi Kampung Olahraga Tradisional Sumenep
- Yudie -
- 02 Aug, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Sorak-sorai menggema di Lapangan Hanoman Putih, Desa Kalianget Barat, Minggu (2/8). Bukan pertandingan sepak bola atau bola voli yang menyedot perhatian ribuan warga, melainkan bal budhi—olahraga tradisional khas Madura yang selama puluhan tahun hidup dari semangat komunitas.
Turnamen Olahraga Tradisional Bupati Cup II 2026
menjadi panggung terbesar bagi cabang olahraga tersebut. Sebanyak 224 klub
ambil bagian dalam kejuaraan yang terdiri atas 128 klub kategori umum dewasa,
64 klub U-15 putra, dan 32 klub umum putri. Jumlah peserta itu menjadi rekor
tersendiri dalam penyelenggaraan turnamen bal budhi di Kabupaten Sumenep.
Di tengah derasnya arus olahraga modern, antusiasme
masyarakat Kalianget justru menunjukkan arah berbeda. Mereka mempertahankan
permainan tradisional sebagai identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Camat Kalianget, Hakiki Maulana Firmansyah, menilai
tingginya jumlah peserta merupakan gambaran nyata bahwa bal budhi masih
memiliki ruang hidup yang kuat di tengah masyarakat.
"Turnamen ini memiliki antusiasme yang sangat
tinggi di wilayah kami. Terlihat dari banyaknya tim yang mendaftar dari
berbagai penjuru daerah," ujarnya saat membuka turnamen.
Besarnya partisipasi itu tidak hanya dipandang
sebagai keberhasilan sebuah kompetisi. Bagi Komite Olahraga Masyarakat
Indonesia (KORMI) Kabupaten Sumenep, fenomena tersebut menjadi bukti bahwa
Kalianget telah berkembang menjadi pusat pembinaan olahraga tradisional.
Momentum pembukaan turnamen dimanfaatkan KORMI
untuk menetapkan Kecamatan Kalianget sebagai "Kampoeng Olahraga Bal
Budhi". Penetapan itu ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan dan
piagam penghargaan kepada Pemerintah Kecamatan Kalianget.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan
pendataan KORMI, terdapat 55 klub bal budhi aktif yang tersebar di tujuh desa
di Kecamatan Kalianget. Jumlah itu menjadikan wilayah tersebut sebagai basis
terbesar olahraga bal budhi di Kabupaten Sumenep.
Ketua KORMI Sumenep, Imam Syafi'i, mengatakan
olahraga tradisional membutuhkan ruang kompetisi agar tidak sekadar menjadi
bagian dari cerita masa lalu.
"Turnamen seperti ini menjadi bagian penting
dari upaya melestarikan olahraga tradisional agar tetap hidup di tengah
masyarakat," katanya.
Pelestarian bal budhi kini tidak lagi berhenti pada
aktivitas komunitas. Pemerintah daerah mulai menjadikannya bagian dari agenda
olahraga dan kebudayaan melalui penyelenggaraan turnamen rutin. Kehadiran
kategori usia dini hingga dewasa dalam Bupati Cup II juga menunjukkan upaya
regenerasi atlet dilakukan secara berjenjang.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, bal
budhi di Kalianget justru menemukan momentum kebangkitannya. Lapangan Hanoman
Putih menjadi saksi bahwa olahraga tradisional tidak hanya bertahan sebagai
warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi identitas sosial yang mampu
menyatukan masyarakat dalam semangat kompetisi, kebersamaan, dan pelestarian
nilai-nilai lokal.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


